Bahasa Indonesia NLP
Collection
Kurasi manual dataset & model NLP Indonesia: chat, instruksi, QA, slang, cerita rakyat. Semua dicoba dulu, bukan asal comot. • 69 items • Updated
id int64 1 120 | title stringlengths 7 33 | genre stringclasses 5
values | age_group stringclasses 2
values | story stringlengths 956 2.12k | moral stringlengths 0 117 |
|---|---|---|---|---|---|
10 | Padi di Bawah Pohon Jati | fabel | anak | Di bawah pohon jati di pinggir desa, seekor ayam betina mengais serasah yang lembap. Kakinya menyapu daun kering, lalu paruhnya mengetuk tanah. Di celah akar, tampak butiran padi berceceran, sisa karung petani yang robek saat lewat. Ayam betina mematuk satu butir. Rasanya gurih. Ia memandang kiri-kanan, lalu mulai memi... | Harta yang ditimbun sendiri mudah hilang; berbagi membuat rezeki terasa cukup. |
85 | Warung Bu RT | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Warung Bu RT terletak persis di tikungan jalan masuk nagari. Dari subuh, gelas kopi dan wadah rokok daun sudah berjejer di meja panjangnya. Mak Sutan, orang tertua di kampung, selalu duduk di kursi paling ujung dekat pintu, mengunyah sirih sambil mendengar orang lalu-lalang. Bu RT melayani tanpa banyak cakap; dia hafal... | |
96 | Kabut Lembah Arjuno | petualangan | dewasa | Pulang sekolah, Bagas menyusuri punggung bukit di bawah lereng Arjuno. Tugas IPS-nya sederhana: "petakan satu mata air dan ceritakan dari mana air itu lahir." Ia sengaja memilih rute lewat lembah yang tak pernah dilewati orang sekampung, lembah yang kata mbahnya menyimpan jejak gerbong tua peninggalan zaman Belanda.
B... | |
115 | Meuh Si Kucing Pantai | fabel | anak | Di kebun kelapa tepi pantai, kucing bernama Meuh suka mengejar kepiting kecil yang muncul dari lubang pasir. Air laut berkilau di kejauhan, aroma asin bercampur wangi bunga kelapa. Ia paling bangga dengan lompatannya yang tinggi. Burung camar yang lewat sering berteriak mengingatkan, "Kelapa tua bisa jatuh, Meuh!" Meuh... | Keberanian sejati adalah tahu kapan harus menjauh dari bahaya. |
93 | Kenanga untuk Pulang | romansa | dewasa | Pagi di Pasar Oeba, Sinta menata melati dan kenanga di atas anyaman bambu. Wanginya bercampur bau ikan asin dari tenda sebelah, dan ia sudah hafal langkah kaki orang-orang yang berhenti di lapaknya. Sebagian besar membeli untuk kuburan orang tua. Sebagian lagi untuk hiasan acara. Ia tidak pernah berpikir bunganya bisa ... | |
31 | Jambu Pak Karto | kehidupan_sehari-hari | anak | Pak Karto pensiunan. Rumahnya di ujung perumahan, dekat gapura, dengan pohon jambu air di halaman belakang. Rantingnya menjulur sampai ke jalan. Kalau musim buah, anak-anak kompleks suka melompat pagar. Sayangnya mereka memetik yang masih muda, menggigit sekali, lalu membuangnya. Sepagian halaman penuh jambu muda yang ... | Berbagi dan gotong royong mengubah keinginan untuk mengambil menjadi keinginan untuk menjaga. |
94 | Tedong yang Tidak Pamer | fabel | anak | Pagi di pasar hewan Sengkang ramai. Para pedagang menepuk punggung kerbau dagangannya sambil berteriak soal tanduk panjang dan badan gemuk. Dari sudut kandang, seekor kerbau bernama Tedong cuma memandang. Bulunya kusam, tanduknya pendek. Pemiliknya menghela napas, "Kau ini, Tedong, terlalu tenang. Di pasar begini yang ... | Kerendahan hati dan ketenangan lebih berharga daripada pamer kekuatan. |
88 | Ladang di Antara Beton | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Setiap pukul empat pagi, Mak Sari sudah duduk di balik tumpukan kangkung dan cabai merah di Pasar Raya Padang. Tangan tuanya lincah menyiram sayur agar tetap segar, sementara lampu temaram pasar menyalakan bayang-bayang para pedagang lain yang sibuk menata dagangan. Ia tertawa kecil ketika Gen, pemuda pengantar sayur d... | |
97 | Sepeda Motor Butut | romansa | dewasa | Dini meletakkan gelas kopi di meja Pak Made, lalu menutup rapat berkas rapor. Kantor kecil di sekolah pinggir Denpasar itu cuma seluas dua kelas, tetapi Dini tahu letak tumpukan kertas yang paling sering menumpuk di meja guru matematika: entah karena lupa atau sengaja. Setiap pukul sepuluh, dering ponsel Pak Made dired... | |
110 | Teh dan Arus Kapuas | petualangan | anak | Rano bangun sebelum ayam berkokok. Ladang teh di lereng Sendawar menunggu daun-daun muda, tapi hari itu sungai di bawah desa menderu lebih keras dari biasa. Hujan semalaman membuat air naik sampai ke akar pohon rambutan. "Ayo, teh harus diantar ke seberang sebelum pasar tutup," kata Ayah. Rano mengangguk, lalu menyelip... | |
48 | Woro Wisa | horor | dewasa | Malam itu Laras pulang sendirian melewati pematang sawah di pinggir desa. HP-nya mati, lampu senter melemah, dan kabut tipis merayap rendah di atas air. Dari kejauhan ia mendengar bunyi gebyur, seperti orang menginjak lumpur dalam, pelan dan beraturan. Ia berhenti. Bunyi itu berhenti. Ia melangkah lagi. Gebyur itu meng... | |
80 | Jaga Malam di Warung Bu RT | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Pukul sepuluh malam, Pak Darwis meninggalkan pos jaga dan duduk di warung Bu RT. Bu RT menuang kopi tanpa ditanya—sudah hafal jadwal kelilingnya. Warung sepi, hanya obrolan ringan dan suara jangkrik, sampai Mak Ceking datang menyeret karung beras lima kilo. Pak Darwis bangun, mengangkat karung ke pundak, mengantarnya s... | |
89 | Layar Tambalan Boli | petualangan | anak | Boli mengayuh perahu kecilnya ke tengah laut sebelum matahari naik. Dari bibir pantai Alor, karang-karang tampak seperti punggung buaya yang tidur. Boli tahu tempat ikan kuwe berkumpul di balik karang besar yang bercabang seperti tanduk. Ia menebar jaring, menunggu, lalu menariknya. Tiga ekor kuwe menggeliat di atas pa... | Keberanian tumbuh dari ketenangan saat menghadapi masalah. |
33 | Tumpangan Terakhir | horor | dewasa | Sopir angkot itu menyalakan mesin saat lampu terminal hampir padam. Rute terakhir menuju Oesapa hanya dia yang ambil, karena tak ada penumpang dan jalannya gelap. Sepanjang jembatan kayu di atas Kali Oemat, ban mobilnya selalu bergemericik seperti mengirik kerikil. Malam itu ada perempuan tua duduk di pangkal jembatan,... | |
17 | Juru Kunci Sawah | horor | dewasa | Pulang kampung ke Blitar setelah tiga tahun, Bagas menemukan sawah di ujung desa kini jadi ladang jagung. Tidak ada yang mau menanaminya. Kata Mbah Darmo, tanah itu dititipi untuk sesorang yang tidak pernah terlihat sejak pembangunan irigasi tahun 1998. Konon, setiap musim tanam, seseorang harus bermalam di gubuk tenga... | |
63 | Absen Terakhir | horor | dewasa | Bu Ratna baru tiga minggu mengajar di SD pesisir Desa Krajan, Banyuwangi. Setiap pulang sekolah ia menyusuri pantai sepi itu, segaris pasir tipis antara kebun kelapa dan ombak. Kakek penjaga perahu pernah berpesan: jangan sampai sore, jangan menoleh kalau dipanggil. Konon, empat puluh tahun lalu, seorang guru mengajak ... | |
83 | Jejak Air Asin | petualangan | dewasa | Burak menapakkan kaki di kebun teh untuk pertama kalinya. Semalam ia masih di atas kapal ayahnya, menebar jala di muara; kini ia berdiri di lereng Gunung Bawang, di antara barisan semak teh yang rapat seperti ombak yang membeku. Di lengannya tergantung sekantong ikan asin, titipan ayah untuk pamannya yang bekerja sebag... | |
98 | Kupang dari Peukan Subuh | horor | dewasa | Peukan subuh di kaki Seulawah mulai ramai sebelum azan. Darmi, penjual ikan asin, hafal wajah langganannya. Kecuali satu: perempuan berbaju lusuh yang datang saat kabut paling tebal, membeli setengah kilo teri, membayar dengan kupang emas tua. Koin itu dingin—lebih dingin dari es yang menopang dagangannya.
Pagi demi p... | |
52 | Titip Salam | horor | dewasa | Sudah lewat tengah malam, Wati masih mondar-mandir menggendong bayinya yang rewel. Apa pun dicoba, tangisnya tak mau reda. Akhirnya ia melangkah keluar menyusuri pematang sawah yang jauh dari rumah. Lampu rumah tinggal secuil di belakang. Suara jangkrik menggantikan tangis bayi yang tiba-tiba diam.
Di tengah pematang,... | |
69 | Kursi Kedua | romansa | dewasa | Ia duduk di kursi kedua dari belakang, persis seperti tiga bulan terakhir. Bemo jurusan Cekomaria–Sanglah berangkat pukul setengah tujuh pagi, dan setiap kali ia naik, perempuan berjilbab dengan pensil di tangan sudah lebih dulu berada di sana, menggambar sesuatu di buku lipatnya dengan siku hampir menyentuh kaca jende... | |
9 | Dua Gelas Kopi | romansa | dewasa | Setiap pukul enam pagi, Rian menaruh dua gelas kopi tubruk di meja kasir Toko Kue Sari di Pontianak. Satu untuk pemiliknya, satu lagi untuk anak pemilik yang selalu meminta tanpa gula. Kopi pahit di antara lemari kaca berisi bolu dan bika. Rian sempat heran: orang yang dikelilingi manis justru memilih yang pahit.
Suat... | |
62 | Sumur Kecil | fabel | anak | Rawa di kaki Gunung Merbabu sedang kesakitan. Matahari membakar berhari-hari, lumpur merekah, dan genangan air tinggal selebar tikar. Semua kodok gelisah. Untuk bertahan, mereka harus menggali sumur kecil agar air tanah merembes naik. Kata si tua, 'Kita gali bersama, esok air datang.' Kodok kecil bernama Plok malas sek... | Pekerjaan besar hanya selesai jika semua anggota bekerja sama, bukan hanya bersorak. |
99 | Jukung Bocor di Pulau Kelapa | petualangan | anak | Kadek dan Sari mengayuh jukung menuju Pulau Kelapa, cincin hijau di tengah laut selatan Bali. Mereka berjanji pada Bu Ayu akan membawa contoh daun bakau untuk tugas sekolah. Sepanjang perjalanan, Kadek bercerita tentang penyu yang menetaskan telur di pulau itu. Sari hanya tertawa, menganggapnya dongeng.
Saat ombak men... | |
109 | Suara Si Jago | fabel | anak | Pagi-pagi, kabut tipis masih menempel di dedaunan hutan jati di pinggir desa. Jago, ayam jantan berbulu merah menyala, melompat ke atas tunggul pohon. "Kukuruyuk!" Pekiknya membelah udara. "Dengar, kalian semua! Matahari terbit karena aku berkokok!" Burung-burung merbah berhenti berkicau. Tupai menggaruk kepala. Jago m... | Jangan sombong dengan kelebihanmu, sebab setiap makhluk punya peran masing-masing yang sama berharganya. |
8 | Misteri Teh Hilang | petualangan | anak | Sinta dan Rizal berlari menyusuri deretan pohon teh di kaki Gunung Leuser. Dari kejauhan terlihat Paman Umar melambaikan tangan, wajahnya panik. Sepuluh karung daun teh siap jual raib semalam dari gudang. "Aku melihat jejak sepatu besar menuju kebun belakang," kata Sinta sambil mengamati tanah. Mereka pun berpencar, me... | |
2 | Tiga Gelas Kopi | romansa | dewasa | Kedai Gio kecil saja: dua meja di tepi jalan, satu terpal biru, termos kopi yang selalu penuh. Saban sore ia menyeberang ke Gang Seruni mengantar tiga gelas ke sanggar tari. Pesanan kecil, untung tipis. Ia tetap datang.
Di balik pintu sanggar, Rani berlatih di lantai papan. Gio tak paham gerakannya. Ia paham suara nap... | |
79 | Lalan Penjaga Malam | fabel | anak | Pekarangan rumah Pak Posong ramai setiap hari. Burung pipit berkicau di atas pohon mangga, ayam mengais-ngais tanah, kucing tidur di teras. Kelelawar Lalan menggantung di balik daun pisang. Ia cemburu melihat burung pipit bernyanyi. Suaranya sendiri hanya krek-krek seperti pintu tua. Sayapnya lebar seperti payung koyak... | Jangan membandingkan dirimu dengan yang lain, semua punya peran dan waktunya sendiri. |
71 | Si Jalak dan Jalan Pulang | fabel | anak | Kandang Si Jalak tergantung di belakang rumah, menghadap sawah dan bukit hijau. Setiap pagi Si Kecil mengisi piring dengan nasi, pisang, dan air bersih. "Suaramu bagus, Jalak. Latihan terus, ya," kata Si Kecil sambil menutup pintu kandang. Si Jalak mematuk nasi, lalu berkicau riang.
Hari itu, seekor burung liar hingg... | Boleh menjelajah jauh, tapi rumah yang menyayangi kita adalah tempat terindah untuk kembali. |
27 | Arus Krueng | petualangan | dewasa | Air krueng naik. Titian bambu yang biasa dipakai warga terseret arus semalam. Rizal berdiri di tepi, menggenggam bungkus plastik berisi obat untuk Emak di seberang. Emak demam tinggi sejak dua hari. Satu-satunya jalan menyeberangi sungai deras ini sebelum matahari makin tinggi.
Di hulu, sebatang kayu gelondongan melun... | |
81 | Biawak yang Serakah | fabel | anak | Di lereng Gunung Sumbing, ada sebuah kebun pisang tua. Di bawah rumpun pohon paling besar, hiduplah seekor biawak. Setiap pagi ia keluar dari lubangnya, menjulurkan lidah bercabang, lalu menyesap udara kebun. Baginya, semua batang pisang, daun lebar, dan tandan yang mulai membesar itu miliknya sendiri. "Aku yang paling... | Hidup terasa lebih lapang ketika kita mau berbagi, bukan menguasai segala sesuatu sendirian. |
22 | Si Jago dan Sumber Mata Air | petualangan | anak | Sawah Wira kering. Timun dan kacang yang ditanam ayahnya layu. Kata para petani, mata air dekat hutan rimba tertutup longsor. “Ayah harus memperbaiki saluran air dari timur,” kata Wira pada Si Jago, anjing desanya yang kurus tapi lincah. Ia menyelipkan golok kecil di pinggang lalu menyusuri pematang menuju hutan. Si Ja... | |
53 | Pakkalinga | horor | dewasa | Pekerjaan musim panen di sawah Kabupaten Soppeng terasa asing bagi Andi, perantau dari Enrekang yang baru tiga hari mengganti rindu dengan upah. Saat senja turun dan burung pipit pulang ke sarang, teman-temannya lebih dulu meninggalkan petak sawah. Andi masih sendirian di pematang terakhir, merapikan ikatan padi yang t... | |
42 | Cangkir Subuh | horor | dewasa | Sejak malam pertama menjaga warung kopi tua peninggalan Abu, Jali dilarang menyentuh cangkir di meja sudut. Kata warga kampung, cangkir itu milik Tengku Umar, pengunjung paling setia yang berpulang di kursi yang sama tiga puluh tahun lalu. Konon ia masih datang tiap subuh, menyesap kopi yang tak terlihat, lalu pergi se... | |
51 | Becak Haji Daeng | kehidupan_sehari-hari | anak | Setiap subuh, Haji Daeng mencuci becaknya di depan rumah. Kain lap tua itu digosokkan ke jok, ke setang, sampai ke lonceng yang bunyinya “ting-ting” nyaring. Anak-anak kampung suka membantunya. Ibu Rina membawakan air, Umar mengambil lap, dan Sinta menyapu halaman. Haji Daeng tertawa, “Becak ini becak paling bersih di ... | |
67 | Rasa Kampung di Rantau | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Ridwan sudah tiga tahun jadi kuli bangunan di Jakarta. Setiap pagi ia menaiki perancah sebelum matahari memanjat tiang-tiang beton, dan setiap malam ia merebahkan diri di kamar kontrakan enam meter persegi di pinggir kota. Kampungnya di Solok terasa jauh lebih dekat lewat telepon daripada lewat perjalanan. Ia selalu bi... | Gotong royong membuat rantau terasa seperti kampung halaman. |
40 | Pemetik Teh di Hutan Mutis | petualangan | dewasa | Di lereng Gunung Mutis, kabut pagi masih bergantung di antara barisan pohon teh ketika Neno, sebelas tahun, mulai memetik. Daun-daun muda yang baru lepas dari kuncup gugur satu per satu ke keranjang anyaman di punggungnya, wanginya bercampur tanah basah dan asap dapur dari kampung yang jauh di bawah. Pagi itu ia menyel... | |
68 | Angkot Terakhir | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Terminal angkot di pinggir Bukittinggi mulai ramai pukul empat pagi. Pak Salim, RT setempat, sudah duduk di bangku semen dekat loket sambil memegang buku catatan jadwal sopir. Sejak pensiun dari sawah, dia menganggap terminal sebagai taman bermainnya: mengatur giliran angkot, menengahi rebutan jalur, menagih iuran tiap... | |
35 | Halte Terakhir | romansa | dewasa | Pulang mengajar, Rara naik angkot jurusan Sukarame–Tanjung Karang. Ia guru bahasa Indonesia di SMP, dan tasnya lebih berat dari wajar karena kertas ulangan tak pernah habis dibawa pulang. Sopirnya berganti tiap hari, tapi kernetnya sama: Karno, lelaki kurus dengan ikat pinggang longgar, yang di antara dua halte selalu ... | |
61 | Kuning Penjaga Halaman | fabel | anak | Kuning adalah kucing kampung yang menjadikan halaman SDN Sidowayah sebagai rumahnya. Setiap pagi ia duduk di bawah pohon sawo, mengibas-ngibaskan ekor memperhatikan anak-anak bermain di halaman. Bu Darmi, satpam sekolah, menyisakan nasi untuknya. Sebagai balasan, Kuning mengejar ayam tetangga bila berani mendekati gerb... | Jangan memandang remeh pertolongan kecil, karena hal kecil bagi kita bisa menjadi hal besar bagi orang yang ditolong. |
39 | Burung Hantu Penjaga Sawah | fabel | anak | Di pinggir sawah yang hijau, hiduplah seekor burung hantu bernama Ucu. Setiap malam ia bertengger di pohon randu, mengamati pematang dari ujung ke ujung. Tikus-tikus sawah itu licik. Baru saja padi menguning, mereka sudah mengintip dari lubang-lubang kecil.
Ketika para petani tertidur, datanglah si Tikus Kepala Suku m... | Kewaspadaan dan kerja sama lebih kuat daripada kekuatan yang banyak tapi serakah. |
60 | Sapu Lidi Pak Salam | kehidupan_sehari-hari | anak | Pak Salam pensiun dari guru SD di Sragen. Sekarang ia tinggal di rumah anaknya, di sebuah gang kecil di Semarang. Pagi-pagi ia duduk di teras sambil mendengar kicau burung dan suara mesin motor. Sepanjang hidup ia mengajar di kampung yang sejuk. Di kota ini, semuanya terasa lain. Tetangga sibuk, dan Pak Salam belum ken... | Gotong royong membuat siapa pun merasa punya rumah, meski di tanah yang baru. |
56 | Si Belang dan Kabut Sumbing | petualangan | dewasa | Usai pulang sekolah, Bagas mendapati kandang terbuka dan tali tambang kambing putus. Bekas tapak di tanah becek menunjuk ke atas, ke lereng Gunung Sumbing yang mulai dimakan kabut. Ia mengikat tali karung di pinggang, mengambil golok, lalu naik sendiri tanpa menunggu ayah pulang dari sawah.
Jalan setapak menanjak maki... | |
77 | Pagar Bambu Pak Markum | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Pak Markum, pensiunan guru dari Sambas, tinggal di perumahan Pontianak yang rapat. Tetangganya saling kenal sekadar angguk, lebih akrab dengan ponsel masing-masing. Pagi itu, tukang kebun kompleks menebang pohon mangga tua yang miring ke jalan. Bambu-bambu bekas penahan dahan berserakan di depan rumah Pak Markum. Ia me... | |
23 | Si Emas dan Pematang | fabel | anak | Di tengah hamparan sawah Lampung, ada sebuah kolam kecil. Di dalamnya tinggal ikan mas bernama Si Emas. Setiap pagi ia melihat pematang dan sawah yang luas. Burung-burung terbang bebas melintasi padi yang menguning. Si Emas menghela napas. Kolamnya terasa sempit. Ia ingin tahu seperti apa rasanya menjelajah sawah yang ... | Bersyukurlah dengan tempatmu sendiri karena di sanalah kamu aman. |
64 | Jaga Malam | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Pak Dullah mematikan senter dan mendengarkan. Dari balik pagar rumah-rumah petak terdengar suara ember plastik beradu, orang menyiram kamar mandi, dan televisi yang menyetel sinetron terlalu keras. Tugasnya menjaga kompleks ini sampai subuh, padahal kompleks ini tidak punya gerbang — gangnya tembus ke pasar, orang bole... | |
66 | Kukur dan Ombak | fabel | anak | Kukur, ayam jantan berbulu merah menyala, tinggal di kebun kelapa beberapa langkah dari pantai Kalimantan Barat. Setiap pagi ia berkokok keras. Suaranya menembus daun-daun kelapa, membangunkan nelayan yang menyiapkan perahu, dan membuat anak-anak buru-buru mencuci muka.
Di siang yang terik, Kukur bertengger di bawah p... | Jangan membandingkan diri dengan orang lain; kerjakan saja tugasmu sebaik-baiknya. |
24 | Uang di Bawah Piring | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Sejak lampu terminal Menanga belum padam, Bu Karin sudah menata kukusan di warungnya. Angkot pertama mangkal pukul lima, dan sopir-sopir itu menolak sarapan sebelum nasi campurnya mengepul. Usianya enam puluh lebih, tapi tangannya masih cepat—meracik sambal, menggoreng telur, mengingat pesanan siapa yang tidak pakai ka... | Kehangatan kampung adalah utang yang dibayar bukan dengan hitungan, melainkan dengan balas budi. |
41 | Keliman | romansa | dewasa | Edi penjahit di gang belakang Pasar Flamboyan, Pontianak. Mesin jahitnya bekas dan berbunyi gemeretak, tapi hasil jahitannya rapi seperti benang yang tidak pernah putus di tengah jalan. Ruang kerjanya sempit, penuh tumpukan kain, buku pola, dan ember penampung bocoran atap seng. Orang datang menaruh celana atau kebaya,... | |
100 | Sisa Sagon | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Pak Dullah, pensiunan guru, pindah ke Makassar setelah istrinya meninggal. Anaknya bekerja di kota itu. Setiap pagi ia duduk di balkon lantai tiga, menatap jalanan padat yang tidak pernah sepi. Dari kampung halamannya di Bulukumba, ia terbiasa menyapa tetangga dari gerbang ke gerbang. Di sini ia hanya menegur angin.
S... | Gotong royong tidak hilang di kota besar; ia menunggu untuk dihidupkan lagi. |
113 | Arus Balik | petualangan | dewasa | Angin timur belum bangun saat Herman meluncurkan perahunya dari pantai berpasir hitam Teluk Semaka. Tiga hari hasil tangkapan kosong, umpan habis dimakan kembung kecil. Ia melawan keraguan, membawa perahu menjauh sampai garis pantai menipis — tempat yang biasanya ia hindari. Laut masih mengkilap seperti minyak.
Menjel... | |
25 | Jaga Wae | horor | dewasa | Guru muda itu pulang larut dari bimbingan belajar di rumah kepala desa. Jalan pematang menyempit di antara hamparan sawah yang mengkilap kena bulan purnama. Udara bau jerami basah. Lalu dari arah gubuk di tengah petak sawah terdengar bunyi tumbuk padi: thok... thok... thok... Ritmenya tetap, tidak pernah goyah, padahal... | |
7 | Cangkir Terakhir | horor | dewasa | Setelah satu jam menangis di pundak, anak Dewi akhirnya tidur. Napasnya tipis di leher ibu muda itu. Dari ujung jalan, satu lampu warung kopi tua masih menyala. Dewi masuk, duduk di bangku kayu yang berkerak, dan meletakkan gendongan di pangkuan.
Perempuan tua di balik meja mengelap cangkir tanpa menoleh. "Namaku Jero... | |
57 | Melati di Balik Sanggar | romansa | dewasa | Rara tahu jadwal latihan Sanggar Sekar Djati lebih hafal daripada jadwal sholatnya sendiri. Tiap sore ia datang dengan keranjang anyaman berisi melati basah, menagih pesanan ibu pemilik sanggar, lalu pura-pura sibuk merapikan kelopak sambil memperhatikan Mas Bayu memberi aba-aba gendhing dari sisi ruang tari. Beberapa ... | |
91 | Mawar untuk Lastri | romansa | dewasa | Tiap Jumat sepulang sekolah, Damar mampir ke pasar bunga di pinggiran Klaten. Bukan untuk meminang siapa pun — hanya membeli seikat kamboja untuk vas kecil di ruang guru. Penjualnya, perempuan muda berbaju batik, sudah hafal hitungannya tanpa ia bertanya. "Pak Guru, ini tambahan melati. Biar ruangannya wangi." Dia memb... | |
19 | Pisang Matang untuk Tupai | fabel | anak | Di kebun pisang di Lampung, Tupai kecil tidak sabar menanti buah pisang bertandan hijau. Setiap pagi ia melompat dari batang ke batang, menggerak-gerakkan tandan pisang, berharap satu buah jatuh. Ia menarik daun, menggoyang batang sampai pegal, tetapi tandan itu tetap menggantung teguh. Tupai menghela napas. "Kenapa la... | Kesabaran menanti waktu yang tepat membuat hasil terasa lebih manis. |
50 | Termos Biru | romansa | dewasa | Kantor koperasi di tepi Pelabuhan Paotere masih berbau cat ketika Amir masuk membawa keranjang cakalang. Rina mengangkat kepala dari buku catatan, lalu menulis angka di kolom yang sama seperti tiga tahun terakhir. Percakapan mereka tidak pernah lebih panjang dari soal berat ikan dan uang jasa. Amir meletakkan dua ekor ... | |
119 | Si Tikus dan Banyu | fabel | anak | Di tengah rawa-rawa Sumatera Utara, hiduplah Tikus sawah bernama Kecil. Rumahnya dari jerami, terapung di atas air dangkal. Setiap pagi ia berkeliling memeriksa pematang, memungut butir padi yang jatuh, dan bermain dengan berang-berang. Hidupnya tenang, sampai suatu hari air rawa mulai naik. Kecil tidak peduli. "Air na... | Kita harus selalu waspada, jangan menunggu bahaya datang sebelum bertindak. |
43 | Kabut di Kebun Teh | petualangan | dewasa | Salim menekan langkah di antara barisan teh yang basah embun. Dingin Bukit Barisan merambat ke ujung jemarinya, tapi ia tak berhenti. Paman bilang kebun blok timur dilarang dimasuki, tapi asap tipis yang mengepul dari balik bukit itu bukan asap tungku. Ibu jarinya menekan tombol kamera ponsel murahnya. Tiga orang menga... | |
3 | Kucing dan Jembatan Bambu | fabel | anak | Kiko, kucing kampung di tepi sungai kecil Kalimantan Barat, setiap sore duduk di pangkal jembatan bambu. Di seberang, rumah Nek Salmah. Angin selalu membawa bau ikan goreng dari dapurnya, dan itu membuat perut Kiko berbunyi. Tapi jembatan itu licin. Begitu dipijak, bambu-bambunya berderit dan bergoyang seperti ayunan n... | Keberanian bukan berarti tidak takut, tapi tetap mencoba dengan hati-hati. |
104 | Tiang Tengah | horor | dewasa | Pulang ke rumah nenek di Bulukumba, Dika mengira semua sudah usai. Neneknya wafat tiga bulan lalu, tetapi warga kampung masih membicarakan rumah panggung di ujung pematang itu seperti rumah yang belum selesai hidup. "Nenekmu memberi makan tiang," kata Pak Anto, nyaris berbisik. "Setiap senja, segenggam beras untuk tian... | |
73 | Tumbuh Seperti Padi | fabel | anak | Di pematang sawah Lampung, hiduplah seekor biawak muda. Setiap pagi ia menatap parit besar di ujung sawah. Di seberang parit, para bangau berdiri melenggang, memandangnya remeh. "Aku ingin besar sekarang juga, supaya bisa mengejar mereka!" gerutunya sambil mencambukkan ekor ke lumpur.
Petani menanam padi. Bibit-bibit ... | Semua hal yang baik butuh waktu dan kesabaran, seperti padi yang tumbuh perlahan. |
74 | Pulang Sebelum Ombak Besar | petualangan | anak | Roni tinggal di kampung kecil di belakang pantai selatan Sumatera Utara. Semua orang tahu, laut di sana indah tapi licin berkarang. Malam itu, bapaknya bercerita tentang goa karang yang hanya terbuka setahun sekali saat surut purnama. Di dalam goa itu, kata para nelayan, tersimpan batu hitam yang bisa menghalau badai. ... | Keberanian baru berguna kalau disertai ilmu dan kesabaran. |
37 | Mas Kembar | fabel | anak | Di kebun kelapa dekat pantai Lampung, ada kolam tua tempat tinggal Mas Kembar, seekor ikan mas bersisik keemasan. Kolam itu tak pernah kering karena akar kelapa menjaga airnya tetap teduh. Namun, Mas Kembar sering mengeluh. Ia ingin berenang ke laut yang biru seperti ombak yang terdengar dari kejauhan. Padahal setiap h... | Rumah sendiri yang sederhana lebih baik daripada tempat indah yang berbahaya. |
47 | Uhui, Penjaga Pematang | fabel | anak | Senja turun di sawah-sawah kaki Gunung Singgalang. Kabut tipis menggelantung di atas padi yang mulai menguning. Di sebatang bambu tua di pematang, seekor burung hantu membuka matanya yang bulat. Namanya Uhui. Sepanjang hari ia tidur, tapi begitu gelap datang, ia jadi penjaga paling waspada di hamparan hijau itu.
Begit... | Jangan menilai makhluk lain dari rupa atau suaranya; setiap yang hidup punya peran baik di tempatnya. |
38 | Perahu Lesung Bocor | petualangan | anak | Pulau Kambing cuma selebar tiga lapangan. Budi, anak petani, hafal setiap lubang karang di sana. Pagi itu ia memuat singkong ke perahu lesung untuk dijual ke Pulau Garam. Ayahnya berpesan, “Angin timur menari-nari di selat. Jaga dayungmu.”
Di tengah selat, lambung perahu bocor. Air masuk deras, membasahi karung singko... | |
11 | Suara Pertama Jaka | fabel | anak | Pagi itu, Jaka—ayam jantan muda di pekarangan rumah panggung—berjongkok di balik pagar bambu. Setiap kali Ayah Raja berkokok membelah udara dingin, Jaka menutup matanya. Suara itu keras dan gagah. Jaka pun membuka paruh, mencoba ikut berkokok, tapi yang keluar hanya bunyi seperti decit engsel pintu. Para ayam betina te... | Berani mencoba lebih berharga daripada menunggu suara menjadi sempurna. |
75 | Penumpang Terakhir | horor | dewasa | Hujan gerimis belum reda ketika Pak Lodu memarkir motornya di depan Warung Kopi Tua, tepat di tikungan jalan menuju kampung. Ia menyeruput kopi pahit sambil memicing ke arah lampu jalan yang berkedip-kedip. Pemilik warung, Kakek Bria, duduk di sampingnya, menatap jalan yang kosong.
"Malam ini jangan terima penumpang k... | |
16 | Kucing Penjaga Kelapa | fabel | anak | Di kebun kelapa dekat pantai Jawa Timur, hiduplah seekor kucing kampung bernama Joko. Belangnya loreng hitam-putih, ekornya bengkok karena pernah kejepit pintu. Setiap sore ia berjalan di antara pohon kelapa yang miring ke arah laut, menyapa kepiting yang mondar-mandir di pasir basah.
Suatu kali, badai besar datang. A... | Kebaikan kepada makhluk kecil bisa kembali menjadi pertolongan saat kita membutuhkan. |
59 | Ongkos Tambang | horor | dewasa | Gerimis belum reda ketika Pak Darmo memarkir motornya di mulut jembatan kali tua. Seorang laki-laki berdiri di bawah lampu, baju basah kuyup, memanggil pelan. "Nyangka, ndisik. Aku arep nyabrang." Padahal warga jarang lewat sini malam-malam. Kali itu konon dijaga Mbah Bedhidhen, tukang tambang yang tenggelam karena per... | |
6 | Anak Pasir | horor | dewasa | Setahun mengajar di pesisir Bulukumba, aku belum terbiasa dengan senja. Murid-muridku pulang sebelum matahari menyentuh air, meninggalkan suara yang tak pernah kujelaskan: teriakan anak-anak dari arah laut, tipis, seperti tertelan ombak. Awalnya kukira nelayan. Lalu Ibu Daeng, penjaga perahu, memegang tanganku dan berb... | |
34 | Garam dari Kubur | horor | dewasa | Malam itu redup. Opa Melki, pedagang ikan asin yang baru pulang dari pasar Wae Bale, memilih jalan pintas menembus kuburan di pinggir desa. Tiga puluh tahun ia melewati jalan itu tanpa pernah percaya pada cerita tua tentang perempuan penjual garam yang bersemayam di pusara tertua. Malam itu ia ada di sana.
Tua, kurus,... | |
45 | Kucing Si Ureung Sawah | fabel | anak | Ureung adalah kucing kampung yang tinggal di gubuk kecil di tepi sawah. Setiap pagi, ia berjalan menyusuri pematang sempit sambil mengeong pelan. Sawah itu rumahnya. Di sanalah ia kenal baik dengan Tikus Padi, yang suka menggigiti batang padi muda.
Suatu kali, Tikus Padi ketakutan sampai bulunya berdiri karena meliha... | Menjaga rumah bersama lebih baik daripada bertengkar memperebutkan yang kecil. |
46 | Lincah Bukan Segalanya | fabel | anak | Pagi di sawah, kabut tipis masih menempel di pematang. Seekor monyet ekor panjang melompat-lompat di atas gundukan tanah, menirukan cara kerbau menginjak lumpur. "Aduh, lambat sekali!" teriaknya. "Aku bisa keliling sawah tiga kali sebelum kau sampai ke ujung." Kerbau jantan itu cuma mengibas telinga. "Aku tidak sedang ... | Kecepatan tidak selalu mengalahkan ketekunan; setiap makhluk punya kelebihan masing-masing. |
13 | Tarif Daun Sirih | horor | dewasa | Malam Jumat di Simalungun, hujan belum reda. Dirman menginjak rem di halte sepi, tepat di tikungan sebelum kuburan tua desa. Seorang perempuan tua berdiri di bawah tiang lampu yang mati, kerudung basah menutupi hampir seluruh wajahnya. 'Ke gerbang kuburan, Bang,' katanya. Suaranya berat, seperti kayu digesek batu.
Jal... | |
49 | Pisang untuk Semua | fabel | anak | Kebun pisang di pinggir desa itu rimbun. Di balik daun lebar, Ayam Betina menemukan satu sisir pisang yang matang sekali. Kulitnya kuning bersih, baunya manis memanggil. Ayam Betina mematuk-matuknya, lalu menyembunyikan pisang itu di balik semak. Untuk diriku sendiri, pikirnya. Ia pun mulai menyeret sisir itu pelan-pel... | Makanan yang dibagi bersama terasa lebih nikmat daripada yang disimpan sendiri. |
102 | Tikus Sawah yang Berbagi | fabel | anak | Di pinggir halaman sekolah dasar di Kalimantan Barat, ada lubang kecil di bawah pohon mangga. Seekor tikus sawah bernama Putih tinggal di sana. Setiap jam istirahat, Putih mengintip dari balik rumput. Ia suka melihat anak-anak bermain dan makan bekal.
Pagi itu, tanah masih basah setelah hujan. Putih mencium bau nasi g... | Berbagi dan menjaga barang orang lain membuat hati tenang. |
111 | Pasang Tak Kembali | horor | dewasa | Di pantai sepi sebelah utara Sungai Raya, pasang surut meninggalkan genangan kecil yang berbau payau. Nelayan tua bernama Ucok hafal larangan, jangan melaut ketika air turun hingga batu hitam runcing di tengah pantai tersembul. Ia tak ingat siapa yang meletakkan larangan itu. Ayahnya hanya berpesan, batu itu punggung r... | |
120 | Mak Pasang | horor | dewasa | Hujan sore membuat laut berbau lumut sampai ke warung tempat Madi menunggu penumpang. Pantai itu sepi; seperti biasa, hanya hujan yang menemani helmnya yang retak. Menjelang magrib, seorang perempuan tua berdiri di pangkal jembatan kayu yang menjulur ke laut, memegang keranjang anyaman. Madi mendekatkan motornya. Ia me... | |
101 | Uhu yang Iri | fabel | anak | Di kebun pisang dekat kaki Gunung Singgalang, hiduplah seekor burung hantu kecil bernama Uhu. Setiap malam, saat teman-temannya terbang mencari tikus, Uhu menggerutu dalam sarangnya. Ia iri pada pipit yang bercanda di siang hari, melompat dari satu daun pisang ke daun pisang lainnya sambil berjemur hangat. "Kenapa aku ... | Jangan iri pada kelebihan makhluk lain; setiap hewan punya keistimewaannya sendiri. |
20 | Setengah Potong | romansa | dewasa | Toko kue itu kecil, tiga meja, dan penjaganya hafal pesanan tetap: bolu kukus dan teh tawar. Pemilik toko buku di seberang jalan datang tiap sore, duduk di meja sudut, membaca sambil menyisakan setengah potong kuenya. Ia jarang bicara, hanya mengangguk saat pesanannya diantar.
Hujan deras menjelang magrib membuatnya b... | |
86 | Catatan di Sela Lontara | romansa | dewasa | Sore itu jendela perpustakaan kampus terbuka lebar, membawa bau daun kering dari halaman. Aldi selalu menyempatkan diri ke sana saat jam istirahat — kantornya hanya dua halte dari kampus, dan perpustakaan ini tempat paling sunyi yang ia kenal. Ia bukan mahasiswa, bukan juga peneliti. Hanya pekerja kantoran yang butuh s... | |
44 | Jejak Gajah di Rimba Lampung | petualangan | anak | Raka, pemandu wisata muda dari Desa Cinta Alam, memimpin rombongan kecil masuk rimba Lampung. Di tengah jalan, jembatan bambu di atas Sungai Way Semaka putus diterjang banjir semalam. Rombongan berhenti. Seorang anak wisatawan menangis karena takut pulang telat.
Raka ingat cerita kakeknya tentang jalan gajah tua di hu... | Kesabaran dan kepedulian terhadap alam selalu membuka jalan di tengah kesulitan. |
105 | Kicauan Jalak di Pasar | fabel | anak | Pasar hewan di Pontianak riuh sejak pagi. Ayam berkokok, kucing mengeong, anjing menggonggong. Di sangkar rotan depan lapak Pak Lam, seekor jalak berdiri diam. "Jalakku bisa meniru suara apa pun!" teriak Pak Lam. Burung itu langsung menirukan kokok ayam, meong kucing, hingga bunyi klakson becak. Pembeli bertepuk tangan... | Jadilah dirimu sendiri, karena suaramu sendiri lebih berharga daripada tiruan apa pun. |
21 | Kotak dari Karang | petualangan | dewasa | Mak Kiok tahu sawah ayahnya tidak akan pernah cukup untuk membawa dia ke mana-mana. Itu sebabnya, setiap laut surut, ia berjalan ke pantai selatan tempat gelombang membentur karang hitam seperti nafas raksasa. Di sana ia mencari sisa-sisa kapal yang karam; sekali-sekali ada papan, botol, atau tali yang bisa dijual ke p... | |
1 | Rakit untuk Putih | petualangan | anak | Pasang datang lebih cepat hari itu. Ardi, anak petani di sebuah pulau kecil di lepas pantai Sibolga, sedang mengikat ubi ke rakit bambu. Dari kejauhan ia melihat Putih, kambing peliharaannya, mondar-mandir di gundukan pasir yang airnya semakin menutup. Sebentar lagi gundukan itu jadi pulau sendiri. Ardi berlari ke tepi... | Keberanian dan barang sederhana di sekitar kita cukup untuk menolong yang kita sayangi. |
116 | Kambing dan Rumput Seberang | fabel | anak | Pagi di dataran tinggi Karo, kabut tipis masih menyelimuti sawah yang membentang di lereng. Gembul, kambing jantan bertanduk pendek, berdiri di pematang sempit yang hanya cukup untuk dua kaki manusia berjalan. Ia memandangi rumput hijau di seberang sawah. Rumput itu tampak lebih segar, lebih tinggi, lebih subur daripad... | Jangan mengejar rumput yang tampak lebih hijau di seberang; syukuri apa yang ada di dekatmu. |
106 | Tupai Jujur dari Pasar Rejoso | fabel | anak | Pagi di Pasar Hewan Rejoso, Jember, belum pernah sehiruk ini. Kambing-kambing mengembik dari kandang sewaan, ayam-ayam kampung berkokok bersahutan, dan bebek-bebek berdesakan di sepanjang selokan. Di tengah keramaian itu, seekor tupai kecil bernama Cetot meniti pagar bambu sambil mengendus-endus. Perutnya bunyi keruyuk... | Orang jujur tidak pernah rugi, sebab kejujuran selalu kembali menjadi kebaikan yang lebih besar. |
58 | Tukang Becak dan Angin Laut | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Pak Sarji menurunkan dua nelayan tua di bibir pantai, tepat saat matahari menggantung kuning di atas ombak. Becaknya berderit seperti biasa, tapi Sarji sudah hafal bunyi itu seperti hafal nama-nama ombak. Ia biasa mangkal di ujung jalan Desa Karangsari, menunggu siapa pun yang butuh tumpangan dari pasar ke pesisir. Tid... | |
114 | Becak Pak Karto | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Pak Karto sudah sebelas tahun mangkal di depan SDN Tambakbaya, Jawa Tengah. Setiap pukul sepuluh ia memindahkan becaknya ke bawah pohon asem dekat gerbang, tempat para ibu menunggu jemputan. Anak-anak memanggilnya Pak Kar. Ia hafal nama semua: Rara yang menangis kalau tali sepatunya lepas, Dimas yang minta diantar samp... | Gotong royong membuat kebaikan kecil kembali jadi kehangatan yang besar. |
54 | Sisa Sayur untuk Bu Ratmi | kehidupan_sehari-hari | dewasa | Gerobak Mbok Minah berderit tiap kali rodanya masuk lubang di gang selebar bahu. Sayur di keranjang tinggal dua ikat bayam, tiga terong, dan setumpuk cabai yang mulai layu. Matahari sudah miring, padahal ia belum pulang. Ia buru-buru menuntun gerobak ke ujung gang, ke rumah Bu Ratmi yang tiga hari ini pintunya tidak pe... | |
108 | Mencari Nutut | petualangan | anak | Paginya kandang kambing kosong. Nutut, kambing kesayangan Bima, menghilang. Pagar bambu roboh seperti didorong kuat. Jejak kuku kecil mengarah ke hutan rimba di ujung sawah. Bima mengikuti jejak itu, membawa seikat rumput dan sebotol air.
Hutan makin lebat dan gelap. Sungai di depannya berubah cokelat keruh, meluap ka... | Keberanian sejati adalah tetap tenang saat takut. |
90 | Warung Bu Minah di Terminal | kehidupan_sehari-hari | anak | Di terminal angkot Lampung, ada warung kecil milik Bu Minah. Setiap pagi, sebelum angkot pertama berangkat, Bu Minah sudah menata gorengan dan menyeduh teh manis. Para sopir angkot singgah bergantian. "Bu, kopi dua, gorengan tiga," kata Pak Udin sambil meletakkan uang di meja. Bu Minah melayani dengan cekatan. Ia hafal... | Gotong royong membuat pekerjaan berat terasa ringan dan kampung terasa hangat. |
84 | Biawak Penjaga Jembatan Bambu | fabel | anak | Di Sulawesi Selatan ada sungai kecil berair jernih. Sebuah jembatan bambu membentang dari tepi ke tepi. La Upe, biawak besar, duduk di tengah jembatan sambil mengibas-ngibas ekornya ke air. "Jembatan ini punyaku," katanya pada setiap hewan yang lewat. Kura-kura yang berjalan pelan dipulangkannya. Tupai yang melompat-lo... | Berbuat baik pada sesama akan kembali menjadi kebaikan untuk kita. |
92 | Terminal yang Hangat | kehidupan_sehari-hari | anak | Pak Baso pensiunan sopir angkot. Tiap pagi ia duduk di bangku terminal sambil membawa termos dan sapu lidi. Terminal itu rumah keduanya. Ia tahu semua jurusan, semua sopir, semua anak sekolah yang naik turun sejak kecil.
Sopir-sopir muda memanggilnya "Angku". Anak sekolah yang dulu diantar kini suka menawar, "Baso, se... | Hormat kepada orang tua tidak perlu menunggu mereka minta, cukup dengan kekuatan doa dan perhatian yang tulus. |
26 | Penjaga Botol Kaca | horor | dewasa | Malam itu, Rizal kembali dari rantau dan memilih jalan pintas melewati Gang Mandeh, gang sempit di belakang Pasar Raya Padang. Dinding-dindingnya lembap, catnya mengelupas seperti kulit ular, dan satu-satunya lampu yang menyala ada di ujung gang: lampu minyak di jendela rumah tua yang tak pernah ditinggali orang. Kata ... | |
72 | Tobang dan Lubang di Pematang | fabel | anak | Biawak Tobang baru saja selesai menggali lubang di pematang sawah. Tanah basah bertebaran, dan air mengalir keluar lewat lubang itu. Burung kuntul yang bertengger di pinggir sawah berteriak, "Tobang, lubangmu membuat air bocor!" Tobang hanya mengibas ekornya. "Biar, aku kuat. Kalau air habis, aku cari tempat lain," kat... | Kekuatan jadi berharga kalau dipakai untuk menolong, bukan merusak. |
103 | Mbah Gonggong | horor | dewasa | Kampung di kaki Arjuno itu punya penjaga yang bukan manusia. Kata nenek, namanya Mbah Gonggong—seekor anjing besar yang tubuhnya tertanam di tanah sampai leher. Ia menahan desah gunung dengan gonggongan. Kalau batunya menyahut, penjaganya sedang tertidur, dan seluruh kampung wajib memejamkan mata sampai embun turun.
U... | |
78 | Bubu di Hulu Sungai | petualangan | dewasa | Markus memikul bubu rotan dan parang ke hutan di balik punggung kampung. Tiga hari lagi pesta adat, dan ikan betik hanya ditemukan di hulu Sungai Kambaniru, jauh di dalam rimba yang tidak pernah ia lalui sendiri.
Belum dua jam berjalan, langit berubah. Hujan deras turun, dan alur sungai yang kering seketika menjadi ba... | |
65 | Daun Teh dan Air Asin | petualangan | dewasa | Kabut pagi menempel di punggung Bukit Barisan ketika Sari menjentik tiga daun teh termuda ke keranjang anyamannya. Betisnya linu, tapi pikirannya sudah jauh: dua hari lagi daun tehnya harus tiba di pasar pulau, tempat pembeli membayar tiga kali lipat. Ia menukik turun dari kebun Karo, keranjang berat menabuh panggulnya... | |
30 | Kambing Kecil yang Mau Sendiri | fabel | anak | Di belakang rumah mbah Darso, ada kandang kayu jati. Di dalamnya tinggal Kambing Kecil yang bulunya putih bersih. Setiap pagi, mbah Darso membuka pintu kandang. "Ayo, makan rumput," ajaknya. Tetapi Kambing Kecil menggeleng. "Aku mau cari rumput sendiri, Mbah. Aku sudah besar."
Mbah Darso mengangguk, lalu pergi ke sawa... | Belajar mandiri itu baik, tapi jangan menolak bantuan orang yang menyayangi kita. |
Kumpulan cerita pendek orisinal berbahasa Indonesia — fabel, horor ringan, petualangan, romansa, kehidupan sehari-hari, legenda daerah. Semua cerita asli (bukan terjemahan), khas Indonesia.
Story generation untuk Bahasa Indonesia butuh cerita yang terasa Indonesia — setting kampung, pasar, hutan, karakter Pak RT/Bu Warung/nelayan, nilai gotong royong. Dataset cerita ID di HF belum ada yang bagus; mayoritas cuma terjemahan dari Inggris.
| Field | Tipe | Contoh |
|---|---|---|
title |
string | "Si Kancil dan Buaya yang Sombong" |
genre |
string | fabel (fabel/horor/petualangan/romansa/kehidupan_sehari-hari/legenda_daerah) |
age_group |
string | anak/dewasa |
story |
string | 2-4 paragraf, 150-400 kata, alur lengkap |
moral |
string | Pesan moral (khusus fabel) |
Variasi: 30% fabel (hewan + moral), 20% horor ringan, 20% petualangan, 15% kehidupan sehari-hari, 15% romansa ringan.
from datasets import load_dataset
ds = load_dataset("LorthGyu/indonesian-stories")
# Fine-tune story generation: prompt → cerita
for row in ds["train"]:
print(row["title"], "|", row["genre"])
MIT — bebas dipakai termasuk komersial.